SUKSES BETERNAK KELINCI

KAMI PECINTA KELINCI MENYEDIAKAN BERBAGAI JENIS KELINCI PEDAGING DAN HIAS

Thursday, June 01, 2006

CARA SUKSES BETERNAK KELINCI

Kelinci

SUKSES BETERNAK KELINCI



Prospek Beternak
Prospek beternak kelinci cukup cerah, karena didukung oleh faktor agroklimat, sumber daya alam, dan sosial ekonomi masyarakat Indonesai. Ternak kelinci menyukai tempat-tempat yang sejuk dan banyak terdapat sayur mayur. Ada korelasi antara peternakan kelinci dan tanaman sayuran. Ternak kelinci terkonsetrasi di Lembang (Jawa Barat), Tawangmangu, Pandansari (Brebes, Jawa Tengah), dan Batu (Malang, Jawa Timur). Di daerah panas, cara memelihara kelinci dapat disesuaikan, baik sistem perkandangan, lingkungan maupun cara pemberian pakan. Sebaiknya atap kandang dibuat dari rumbia atau daun kelapa, sekeliling kandang ditanami pohon pisang dan diberi air minum setiap hari. Ketinggian lebih dari 500 m dpl, dengan suhu yang ideal antara 15øC-18øC. Di Indonesia tersedia memadai sumber pakan untuk kelinci, baik pakan untuk musim hujan maupun musim kemarau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ternak kelinci cenderung menyukai hijauan yang lunak, misalnya daun ketela rambat, rumput lapangan, daun kubis, kangkung. Daerah pengembangan ternak kelinci terutama daerah yang rawan gizi. Perlu membina kesadaran para peternak untuk dapat mengonsumsi daging kelinci bagi keperluan anggota keluarga secara kontinu. Apabila protein terpenuhi, maka peternak akan menjual sebagian kelincinya untuk menambah pendapatan keluarga, sehingga pola pemasaran produk kelinci mulai dirintis dari sekarang. Pabrik-pabrik abon yang sering mencampur daging sapi dengan nangka atau kelewih, ditukar dengan daging kelinci, sehingga orang kota dapat memanfaatkan daging kelinci sebagai sumber protein hewani. Konsumsi daging kelinci telah dirintis tahun 60-an secara nasional oleh Presiden Soekarno almarhum, mulai digalakkan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 26 Juni 1980. Kandungan gizi daging kelinci cukup tinggi, terutama proteinnya yang setara dengan jenis daging lainnya. Persoalan yang perlu dipecahkan adalah belum terbiasanya masyarakat mengonsumsi daging kelinci secara meluas. Hal ini mugkin disebabkan oleh bentuk kelinci yang menyerupai tikus besar, karena dua pasang giginya, sedangkan bulunya yang tebal selalu mengingatkan seseorang pada bulu kucing. Di samping itu, keseganan masyarakat mengonsumsi daging kelinci adalah karena tradisi bahwa jenis hewan ini dianggap sebagai hewan piaraan dan kesayangan, bukan untuk tujuan dipotong. Karena ciri-ciri tersebut di atas, maka sebagai akibatnya daging kelinci kurang populer jika dibandingkan dengan daging yang lain. Sebenarnya daging kelinci relatifsulit dibedakan rasanya dengan daging ayam, bahkan yang menyatakan lebih enak dibandingkan dengan daging sapi atau kambing. Cocok dikonsumsi bagi masyarakat yang tidak ingin gemuk.
Pengembangan
Menurut seorang pakar kelinci dari Amerika, menyatakan bahwa Indonsia memiliki potensi yang sangat besar untuk pengembangan ternak kelinci di dunia. Pengembangan peternakan kelinci sebaiknya menyertakan rakyat kecil dan melibatkan koperasi untuk menciptakan peluang penyerapan tenaga kerja, pemerataan dan pendapatan menuju suatu pola agribisnis. Oleh karena itu strategi pengembangan peternakan kelinci yang diharapkan adalah pola Peternak Inti Rakyat (PIR) dan padat karya. Hasil olahan daging berupa abon, dendeng, sosis, dan lain-lain merupakan alternatif produksi yang mungkin lebih dapat diterima oleh masyarakat. Sementara produksi kulit-bulunya, terutama kulit bulu kelinci Rex memiliki potensi untuk ekspor sekaligus dan menunjang pariwisata. Oleh karena itu dalam strategi pengembangannya, diperlukan usaha promosi yang intensif atau bahkan menciptakan pasar dari potensi yang telah tersedia. (HR Rukmana)


TERNAK KELINCI


anda tertarik dengan dunia kelinci silahkan hubungi kami